Ternyata Gerakan Silat Khas Bawean Berasal Dari Sayyidina Ali

Pencak silat khas Bawean merupakan tradisi warisan para nenek moyang yang selalu dirawat hingga bertahan sampai saat ini. Menariknya, gerak seni yang diperagakan oleh para pendekar Bawean ini merupakan asal muasal dari jurusnya sahabat Sayyidina Ali. Yang tentunya disetiap gerakan tersebut memiliki arti dan filosofi tersendiri. Sebagaimana, Misnari, salah satu Pendekar asli Bawean asal Dusun Menara, Desa Gunungteguh ini menjelaskan, bahwa seluruh gerakan silat atau pencak khas Bawean ini merupakan rangkaian dari huruf Hijaiyah. Yang asal muasalnya menyerupai dengan jurus yang dimiliki Sayyidina Ali, sang pemilik pedang Zulfikar. Namun, menurutnya instrumen atau alat yang digunakan untuk menggiring pencak ini merupakan gabungan dari berbagai budaya, yang disitu ada Gong, Ketipung dan Gamelan. "Semua langkah yang ada dalam gerakan pencak silat Bawean ini menunjukkan huruf Hijaiyah, contohnya pada saat pedang ditegakkan menunjukkan huruf Alif, kemudian kuda-kuda demikian juga memiliki arti Lam Alif dan seterusnya. Dan ini dikatakan oleh guru kami bahwa jurus pencak silat khas Bawean ini merupakan asal muasal dari jurusnya sahabat Sayyidina Ali", jelas Nari, panggilan akrabnya, saat dikonfirmasi, Rabu (28/06/2022). Oleh karena itu, ia mengatakan untuk tetap menjaga tradisi pencak silat khas Bawean ini maka Porsema ke-XIV yang bertempat di Alun-alun Kecamatan Sangkapura ini juga dilombakan pencak silat Bawean. "Ini usulan sahabat Ansor Bawean agar Porsema ke-XIV juga dilombakan pencak silat Bawean. Demi menjaga dan merawat tradisi leluhur kita yang mulai terkikis", kata Nari, salah satu juri dalam lomba pencak Bawean di Porsema ke-XIV ini. Ia berharap kepada para pendekar muda Bawean agar tradisi pencak silat khas Bawean ini juga dimasukkan ke lembaga-lembaga di naungan Ma'arif NU, sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Kemudian ia juga berharap kepada para persatuan pendekar di seluruh penjuru tanah Bawean agar tetap saling silaturahmi demi menjaga tradisi pencak Bawean sebagai kearifan lokal. "Saya berharap pencak silat khas Bawean ini juga dimasukan ke lembaga-lembaga dibawah naungan Ma'arif, khususnya kepada para pendekar muda Bawean agar tradisi Pencak ini tidak terkikis karena ada generasi penerusnya. Dan seluruh persatuan pendekar Bawean ini juga harus sering bersilaturahmi disamping untuk berbagai ilmu dan pengalaman", harapnya. Kemudian ia lanjut menjelaskan, pada esensinya pencak Bawean yang disitu juga ada pergulatannya seharusnya tidak sampai menyeruduk lawan sembarangan, apa lagi menimbulkan pertengkaran. Akan tetapi bagaimana pesilat ini tetap bertahan di satu tempat tapi tetap bisa menjatuhkan lawan. "Seharusnya pada saat bergulat antar dua petarung silat ini tidak sampai menyeruduk lawannya sembarangan sehingga tidak menimbulkan amarah. Tapi tetap bertahan di satu tempat namun tetap bisa menjatuhkan", tegas Pendekar muda Bawean ini. Selain itu, ia menuturkan dimana pedang dalam permainan pencak Bawean ini hanya sebagai bunga atau aksesoris semata untuk menambah daya tarik bagi penonton. "Namun memakai pedang ataupun tidak itu sama saja langkahnya. Pencak ini kan selain dikenal dengan pergulatan, tapi juga sering hanya sebagai pertunjukkan di acara-acara, seperti mantenan atau dipertunjukkan untuk tamu agung", pungkasnya.

Published by : Aminuddin