MAKNA DAN SAKRALITAS MAULID NABI DI BAWEAN

Sejarah Maulid Secara historis asal mula peringatan maulid dalam tradisi sunni dapat ditelusuri jejaknya hingga masa Salahuddin al-Ayyubi. Pada masa itu, penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum mobilisasi kaum muslimin yang tercerai-berai karena melemahnya spirit jihad akibat kekalahan beruntun yang mereka alami ketika menghadapi tentara salibis Eropa dalam Perang Salib. Sejak saat itu peringatan maulid menjadi tradisi yang terus diselenggarakan oleh kaum muslimin hingga saat ini, termasuk di bumi nusantara. Di nusantara Maulid tidak hanya sebagai sarana pemersatu masyarakat dalam ikatan silaturrahim, tetapi juga menjadi media dakwah yang sangat efektif untuk menyebarkan ajaran Islam. Dengan demikian maulid nabi menjadi peristiwa religius yang sangat sakral. Bukan hanya itu, fenomena peringatan maulid juga mempunyai ragam cara, bentuk bahkan nama sesuai dengan kultur dan budaya yang ada di nusantara, seperti Festival Garebeg Maulud dan sekaten di DIY dan Jawa Tengah, Perayaan Endhog-Endhogan di Banyuwangi, Kenduri Maulid di Aceh, Walima di Gorontalo, Coka Iba di Maluku Utara, dan lain-lain. Makna Maulid 12 Rabiul Awal merupakan hari istimewa bagi umat islam karena bertepatan dengan hari kelahiran manusia agung nabi akhir zaman Nabi Muhammad SAW. Ekspresi syukur itulah hakikat Maulid, atau Peringatan Maulid nabi muhammad SAW. Maulid juga merupakan penghormatan atas kebesaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagamaan. Walaupun peringatan yang dilaksanakan seperti sekarang ini secara eksplisit belum dikenal pada masa nabi, tapi maulid saat ini menjadi perayaan-perayaan besar oleh hampir negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain yang masyarakat muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania Raya, Rusia, dan Kanada. Ciri Khas Maulid Bawean Masyarakat Bawean menyebut Maulid dengan sebutan "Molod". Tradisi maulid atau molod ini di Pulau Bawean mulai dikenal oleh masyarakat seiring dengan masuknya Islam ke-Bawean oleh Ulama Nusantara sekitar abad ke-16 atau sekitar tahun 1511 Masehi. Kemudian berkembang menjadi tradisi yang kokoh dan khas setelah Islam menyebar luas di Bawean sejak kedatangan Syekh Maulana Umar Mas’ud. Pendakwah yang berjasa menyebarkan Islam di Pulau Bawean ini berasal dari Madura dan merupakan cucu dari Sunan Drajat. Dalam perkembangannya corak khas Molod Bawean lahir dari hasil akulturasi dan interaksi dari tradisi masyarakat Bawean dengan tradisi masyarakat dari berbagai daerah yang kemudian menetap dan menjadi masyarakat Bawean, seperti Madura, Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan Palembang. Di antara ciri khas pelaksanaan maulid adalah dapat dilihat pada bentuk hidangan atau angkaan dan pembacaan berzanji. Pada pelaksanaan maulid di Bawean biasanya yang dibaca adalah maulid berzanji natsar karya Syeikh Sayyid Jakfar bin Hasan al-Barzanji dengan irama lagu “husaini” yang biasa dipakai di Sumatera dan Sulawesi, sedangkan untuk “asyrakalan” dan “marhaban” menggunakan lirik dan lagu yang biasa digunakan peringatan maulid dari Sumatera. Perkembangan dan Fasa-Fase Angkatan Maulid di Bawean Ciri khas menonjol kedua dari maulid di Bawean adalah bentuk makanan dan wadah hidangan yang biasanya disebut “angkatan”. Bentuk dan model angkatan ini secara umum telah mengalami perkembangan dan fase sebagi berikut: Pada fase Pertama , angkatan pada perayaan maulid/molod masyarakat Bawean menggunakan sistem “osongan” atau gotong royong”, artinya dari beberapa anggota keluarga mengumpulkan (patungan) aneka makanan sebagai angkatan maulid lalu dikumpulkan menjadi satu di masjid untuk dinikmati dan disantap bersama. Fase kedua. Pada fase ini angkatan molod menggunakan sebuah wadah yang terbuat dari kuningan yang orang Bawean sendiri menyebutnya “Tengghuk”. Pengaruh tradisi Madura terlihat pada fase ini karena selain di Bawean istilah “tengghuk” ini adanya hanya di Madura. Sementara untuk fase ketiga, penggunaan tengghuk bergeser kepada “talam”. Pada fase keempat beralih dari talam kepada “Ceppo”, wadah ini terbuat dari anyaman bambu. Seirama dengan perkembangan zaman pada fase kelima angkatan maulid masyarakat Bawean lebih banyak menggunakan wadah angkatan dari bahan-bahan plastik seperti bak, timba dan sejenisnya yang tetap dihias sedimikian sehingga tetap mempunyai nilai artistik seperti angkatan fase-fase sebelumnya. Makna Filosofi Pada Hidangan Maulid Dalam aspek kehidupan manusia, terdapat beberapa makna dan harapan yang tercermin melalui sebuah simbol. Begitu juga yang tercermin dalam hidangan yang disajikan dalam angkatan tradisi molod orang Bawean. Telur yang selalu ada pada angkatan molod yang disebut “telor tongghuk” yang letaknya berada di tengah dan dikelilingi telur-telur yang lain merupakan simbol Rasulullah yang dikelilingi oleh para sahabatnya. Sedangkan hiasan warna-warni pada telur serta adanya bunga merupakan simbol kegembiraan dan keceriaan dalam menyambut kelahiran nabi. Di samping itu, terdapat juga makanan khas Bawean yaitu “Rangghinang”. Kata “rangghinang” sendiri berasal dari kata “ra’i” dan “dinan”. Ra’i artinya Penjaga, sedangkan “dinan” adalah Agama. Jadi, Rangghinang artinya pelindung atau penjaga aturan syariat Islam. Di samping itu ada juga bendera yang memakai uang, dan uang sendiri maknanya adalah simbol sadakah. Merawat Sakralitas Maulid Demikianlah sekilas tentang metamorfosis perayaan maulid di Bawean yang hingga kini tetap terjaga dengan baik. Bertahannya tradisi ini tidak lepas dari proses regenerasi melalui keterlibatan seluruh masyarakat termasuk anak-anak dan generasi muda sehingga terjadi proses internalisasi dan ekternalisasi yang diaktualisasikan secara berkesinambungan sesuai konteks dan zamannya. Namun disini perlu diketahui juga bahwa asal mula isi hidangan maulid masa dulu yang disuguhkan oleh masyarakat adalah berupa buah-buahan atau disebut juga “bei'-bei’en” dan bersifat tradisional seperti kombhili, dudul, rangghinang, ghugghudhu dll, lain halnya seperti sekarang yang didominasi makanan pabrik yang serba instan. Selain itu, perayaan maulid dari dulu juga sudah dengan sistem saling tukar menukar “angkatan” yang dilandasi niat sedekah dan sikap ikhlas. Sehingga tidak ada rasa kecewa sedikit pun meskipun hidangan (angkatan) yang didapatnya itu lebih sedikit dari pada yang disuguhkan. Untuk itu nilai-nilai perayaan “molod” perlu digali dan dilestarikan agar bentuk rasa syukur dan kecintaan kepada nabi yang tercermin dalam “angkatan molod” yang sakral tidak ternodai oleh perasaan suka pamer, gengsi dan penyakit hati lain yang akhir-akhir ini mulai menggejala di masyarakat. Wallahua’lam. Narsum : Dr. Ainul Yakin Pwncr : Aminuddin, S.H. Editor : Syarifuddin, S.Ag.

Published by : Aminuddin